5 Efek Perceraian Pada Anak Yang Mengerikan
- account_circle pengacarabwi
- calendar_month 18/11/2020
- visibility 337
- comment 2 komentar
- label Perceraian Banyuwangi
Sebenarnya perceraian adalah hal yang paling dihindari oleh suami dan istri. Namun, terkadang ada beberapa hal yang terjadi antara suami istri yang tidak bisa menemui titik temu.
Bukan hanya masalah pertengkaran saja, perceraian juga bisa dipicu oleh kurangnya komunikasi hingga lunturnya komitmen antara pasangan. Pasca perceraian pun masih ada permasalahan lain, terutama jika sudah memiliki anak.
Ada beberapa efek perceraian pada anak yang kebanyakan buruk untuk psikologisnya. Anak bisa merasa keluarganya tidak lagi sempurna, sehingga dapat menimbulkan rasa iri terhadap teman bermainnya yang sering menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
Berikut Efek Perceraian Pada Anak
Rasa sedih dan kecewa yang cukup dalam juga dapat dirasakan oleh anak ketika tahu bahwa orang tuanya bercerai. Nah, di bawah ini ada lima efek perceraian pada anak, langsung simak yuk.
1. Perasaan bersalah pada anak
Anak-anak terkadang memiliki pikiran yang belum matang, sehingga ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai mereka akan merasa hal tersebut terjadi karenanya.
Mereka bisa merasa sangat bersalah, apalagi jika usianya masih di bawah 12 tahun yang tergolong rapuh dalam menghadapi permasalahan seperti ini. Anak akan merasa dunianya menjadi berantakan setelah perceraian orang tuanya.
2. Lebih paranoid dan kesepian
Saat orang tua memutuskan untuk bercerai, ada resiko bagi anak untuk kehilangan kepercayaan diri, ketenangan batin, dan hilangnya cita-cita mereka. Hasilnya, mereka akan berkembang menjadi orang yang lebih paranoid.
Sifat seperti ini akan membuatnya menarik diri dari pergaulan dan bersembunyi dalam kesendirian, atau malah menjadi orang yang lebih kasar. Kesepian juga menjadi salah satu dampak psikis yang pasti akan terjadi pada anak korban perceraian.
Rasa kesepian tersebut terasa sangat mencolok karena mereka merasa kehilangan salah satu orang tuanya.
3. Memiliki tabiat yang buruk dan menurunnya kualitas hidup
Anak-anak yang menjadi korban perceraian biasanya cenderung merasa tidak punya tujuan hidup dan tidak memiliki pendukung dalam kehidupannya. Mereka bisa saja bertindak di luar kendali dan akhirnya terlibat dalam penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.
Mereka biasanya juga mengalami penurunan kualitas hidup, hal ini dikarenakan uang sakunya yang berkurang karena orang tua yang enggan untuk berkomunikasi atau tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Tidak ingin menikah
Perasaan trauma yang didapat dari orang tuanya bisa membuat anak untuk menghindari pernikahan ketika dewasa kelak. Ia akan merasa enggan untuk melangsungkan pernikahan karena khawatir mengalami hal yang sama.
Apalagi jika sang anak memiliki rasa trauma yang dalam, bisa saja mereka enggan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
5. Penurunan nilai akademik
Menurut beberapa penelitian, anak-anak yang menjadi korban perceraian akan mengalami masalah perilaku. Kegiatan belajar mereka juga cenderung tidak terkontrol, sehingga berdampak pada nilai akademiknya.
Setelah membaca efek perceraian pada anak di atas, tentu sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam memutuskan sebuah perceraian dalam pernikahan. Tentu tidak mau kan karena keegoisan orang tua, sang anak malah menjadi korbannya.
Sebagai orang tua tentu ingin melihat anak bertumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, sehat, dan tidak kekurangan apapun. Jika bercerai menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh, pastikan untuk tetap memperhatikan dan memberi kasih sayang yang tidak berkurang.
Hal tersebut untuk memastikan sang anak tidak merasakan efek buruk perceraian hingga perlu mendapat penanganan khusus. Punya daftar efek perceraian pada anak lainnya? Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.



Apakah perceraian bisa Di lakukan ketika saya Masih berada Di Luar negri?
7 Agustus 2021 08:58Bisa kak, silahkan berkonsultasi dengan kami via WhatsApp
3 Oktober 2021 18:08